Beranda › Learning Hub › Bahasa Indonesia SMA › BIN.5 Kaidah dan sastra
BIN.5

Kaidah Kebahasaan dan Unsur Sastra

Fase F · Kelas XI–XII

Bahasa yang baik membuat tulisan mudah dipahami, dan memahami unsur sastra membuat kita menikmati karya lebih dalam. Halaman ini merangkum kaidah kebahasaan — ejaan, kata baku, kalimat efektif — serta unsur-unsur prosa, puisi, dan drama.

📋Capaian Pembelajaran

Bahasa Indonesia Fase F menekankan ketepatan berbahasa (menulis dan berbicara) dan apresiasi sastra. Penguasaan kaidah ini mendukung kompetensi evaluasi dan apresiasi pada soal membaca.

🎯Yang perlu kamu kuasai

  • Menerapkan ejaan dan tanda baca sesuai EYD.
  • Membedakan kata baku dan tidak baku.
  • Menyusun kalimat efektif.
  • Mengenali unsur intrinsik prosa, puisi, dan drama.

📚Materi

1. Ejaan dan tanda baca

  • Huruf kapital untuk awal kalimat, nama diri, nama geografi, dan nama hari/bulan.
  • Huruf miring untuk judul buku, kata/istilah asing, dan penegasan.
  • Tanda koma memisahkan unsur perincian, anak kalimat yang mendahului induk, dan sebelum kata penghubung “tetapi/melainkan”.
  • Kata depan (di, ke, dari) ditulis terpisah jika menunjukkan tempat (“di rumah”); imbuhan ditulis serangkai (“dimakan”).

2. Kata baku

BakuTidak baku
praktik, apotek, analisispraktek, apotik, analisa
izin, risiko, kualitasijin, resiko, kwalitas
jadwal, cenderamata, napasjadual, cinderamata, nafas
memengaruhi, memopulerkanmempengaruhi, mempopulerkan

3. Kalimat efektif

Kalimat efektif hemat, logis, dan jelas: hindari kata mubazir dan makna ganda, serta pastikan subjek-predikat jelas. “Para hadirin sekalian dimohon berdiri” menjadi “Hadirin dimohon berdiri” (hilangkan pengulangan makna jamak).

4. Unsur sastra

  • Prosa (cerpen, novel): tema, tokoh dan penokohan, alur (maju/mundur/campuran), latar, sudut pandang, amanat.
  • Puisi: diksi, citraan (imaji), rima, irama, majas, dan amanat; dibagi bait dan larik.
  • Drama: dialog, tokoh, latar, konflik, dan petunjuk laku (kramagung). Berbeda dari prosa karena disajikan untuk dipentaskan.
  • Sastra Melayu Klasik (hikayat): berlatar istana, memakai bahasa Melayu lama, sering mengandung unsur kesaktian; kata khas seperti “syahdan”, “hatta”, “maka”.

✏️Contoh soal

Perbaiki kalimat: “Kepada para siswa-siswa yang terlambat diharapkan untuk segera masuk ke dalam kelas.”

Masalah: “para siswa-siswa” (jamak ganda), “kepada” di awal membuat kalimat tanpa subjek, dan “masuk ke dalam” berlebihan.

Perbaikan: “Siswa yang terlambat diharapkan segera masuk kelas.”

Periksa. Subjek jelas (“siswa yang terlambat”), tidak ada pengulangan makna jamak, hemat kata.
Jebakan. Membiarkan “para … -s” (jamak ganda). Cukup salah satu penanda jamak.

📝Latihan

Kerjakan di kertas, lalu buka jawabannya.

1. Bentuk baku: “merubah” atau “mengubah”?
“mengubah” (dari kata dasar “ubah”).
2. Penulisan yang benar: “di sekolah” atau “disekolah”?
“di sekolah” (kata depan penunjuk tempat ditulis terpisah).
3. Efektifkan: “Dia naik ke atas tangga untuk mengambil buku.”
“Dia naik tangga untuk mengambil buku.” (“ke atas” mubazir).
4. Sudut pandang “aku” dalam cerita disebut sudut pandang apa?
Sudut pandang orang pertama.
5. Majas dalam “suaranya menggelegar memecah angkasa”?
Hiperbola (melebih-lebihkan).
6. Ciri bahasa hikayat (sastra Melayu klasik)?
Memakai kata klasik seperti “syahdan”, “hatta”, “maka”; berlatar istana; sering ada unsur kesaktian.

🎯Latihan TKA

Belum ada soal latihan TKA yang khusus untuk topik ini. Kerjakan paket lengkapnya: TKA Bahasa Indonesia Paket 1 dan Paket 2.